ASOE HABA :
Ubah wareuna likoet

http://picasion.com/i/1TGWP/
Cuaca buruk memengaruhi pergerakan harga cabai merah di Kabupaten Gayo Lues (Galus). Pekan ini, harga jual cabai merah berkisar Rp 17.000 hingga Rp 18.000/Kilogram, atau turun dari harga sebelumnya yakni Rp 25.000/Kilogram. 

Sementara harga cabai rawit yang sebelumnya Rp 25.000/Kg, turun menjadi Rp 15.000/Kg. Harga itu telah bertahan sejak beberapa hari terakhir, di sejumlah pasar tradisional dalam Kabupaten Gayo Lues.

“Cuaca buruk menjadi salah satu faktor
yang menyebabkan harga cabai menurun,” kata Zulfan, seorang pedagang penampung di Blangkejeren kepada Serambi, Jumat (10/5).

Dia mengatakan, faktor lainnya adalah, pergerakan harga cabai di pasar sentral Medan. Para pedagang mengaku tidak berani memprediksi arah pergerakan harga cabai dalam cuaca yang buruk ini. Sebab, bisa saja harga naik atau malah makin anjlok. Sehingga pedagang pun enggan mengambil risiko. 

“Para pedagang penampung hasil bumi tetap bergantung pada  perputaran harga di Sumatera Utara. Meskipun cabai merah asal Blangkejeren sebagian besar dikirim ke Banda Aceh maupun ke wilayah Aceh lainnya,” sebutnya.

Menurut pegadang penampung lainnya, cabai yang dikumpulkan dari petani di daerah itu, hanya sebagian kecil yang dikirim ke kabupaten lain di Aceh, seperti ke Aceh barat Daya (Abdya), Bireuen, dan Banda Aceh. 

Tetapi, dalam jumlah besar, cabai asal Blangkejeren tetap dikirim ke Medan, Sumatera Utara. Meskipun ongkos kirim dari Blangkejeren ke Banda Aceh dan Abdya hanya Rp 200/Kg, sedangkan ongkos kirim ke Medan Rp 100/Kg, tetapi para pedagang penampung kebanyakan memilih mengirim cabai itu ke Medan. Padahal, diakui harga cabai jauh lebih mahal di Aceh ketimbang di Medan.(tribun)

Geudeu-geudeu adalah salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie. Budaya Aceh keras dan tegas, Seni bela diri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu tim terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu-geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap selesai panen padi. Kisah kelahirannya berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Karena sangat berbahaya, olah raga keras ini tidak pernah memperebutkan juara, karena bisa berakibat fatal.

Di Pidie, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen-red) atau saat purnama, geudeu-geudeu kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kejar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lembam. Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar pleh bren alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebangkaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.

Sebagai olah raga keras, petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.

Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua katagori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan.

Sistimnya, para petarung terlebih dahulu diundi untuk memilih lawan tanding. Petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung lainnya. Arena biasanya terbuat dari jerami yang berfungsi sebagai matras. Hal ini untuk mencegah cedera para petarung saat dibanting dan dihempas lawan.

Petarung pertama yang menentang dua lawan disebut ureung tueng (orang yang menantang-red). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menyerang-red). Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya.

Pada babak ke dua, posisi pemain dibalik. Posisi tueng akan berlaih ke pok, begitu juga sebaliknya. Hal ini terus berlangsung dalam limit waktu tertentu (ronde-red). Sampai salah satu pihak menang.

Lazimnya sebuah pertandingan, geudeu-geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai-red) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.

Biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu itu sendiri, yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu.

Seorang wasit geudeu-geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. Karena antara professional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan.

Sebagai sebuah olah raga keras, adalah hal yang lumrah, jika para petarung geudeu-geudeu banyak mengalami luka atau lembam dan memar akibat pukulan dan bantingan lawan. Tak aneh, bila olah raga ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang berbadan kekar.

Zaman dahulu, sebelum pejuang Aceh menuju medan perang, mereka memainkan geude-geude sebagai hiburan sekaligus pemicu semangat juang. Dewasa ini, geudeu-geudeu, nyaris tidak pernah dipertunjukkan lagi, terakhir hanya digelar pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) bulan Agustus 2004 lalu, di Stadion Lampineung, Banda Aceh, itu pun hanya simulasi untuk menarik pengunjung semata. Padahal geudeu-geudeu merupakan olah raga keras yang telah menjadi tradisi di Aceh.

Baru pekan lalu Pemerintah Kabupaten Pidie, kembali menggelar pertandingan geudeu-geudeu di Lapangan Bola Blang Paseh, Kota Sigli, setelah belasan tahun terkubur konflik. Dalam hadih maja, orang Aceh mengenal istilah peunajoh timphan, piasan rapai. Bagaimana kerasnya tabuhan rapai, begitulah kerasnya budaya Aceh. Dan, geudeu-geude salah satunya.(atc)

Perempuan millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknyayang terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan Aceh telah menikmati hak-haknya sebagai manusia yang setara tanpa perdebatan.

Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh, Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang nisannya bertuliskan bahasa Arab dan Jawa Ku
no. Di nisan itu, tertoreh nama Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur?. Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga terdapat dalam kitab Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca dan buku Hikayat Raja-Raja Pasai. Tidak banyak keterangan yang didapat oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.

Perempuan Aceh memang luar biasa. Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria. Bahkan, dalam peperangan pun, yang biasanya dilakukan kaum pria, diterjuni pula. Mereka menjadi komandan, memimpin ribuan laskar di hutan dan digunung-gunung. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya, bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. 

Kaum pria Aceh pun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan menjadi anak buahnya. Diantara mereka menjadi amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nayk Dien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya.

Beberapa preode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan. Selain Ratu Ilah Nur, ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah. Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Ada pula yang menjadi ullebalang (penguasa lokal).

Ratu Nahrasiyah

Dr.C. Snouck Hurgronje terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di AcehUtara. Makam yang terbuat dari pualam itu, adalah makam Nahrasiyah, seorang Ratu, putri dari Sultan Zain al-Abidin. Ia memerintah lebih dari 20 tahun. Nama Sultan Zain al-Abidin dalam berita –berita Tiongkokdikenal dengan Tsai-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643) menyebutkan, Ratu ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani olehsida-sida China Yin Ching kepada mahararaja China, Ch’engtsu (1403-1424). Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasiyah.

Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675)

Bersyukur bahwa catatan tentang Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai tentang kiprahnya memimpin.Syafiatuddin Syah lahir tahun 1612 dan anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri Syafiatuddin gadis yang rupawan, cerdas dan berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan dengan Iskandar Thani, putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Sultanah Safiatuddin Syah memerintah selama 35 tahun(1641 – 1675), pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Potugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab. Ia meninggal 23 Oktober 1675.

Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah 

Sultanah Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Hal penting dan fundamental yang dilakukan oleh Naqiatuddin pada masa pemerintahannya adalah melakukan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Acehdan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Maksud dari pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan menyerahkan urusan pemerintahan dalam negari-negari yang terbagi Tiga Sagi itu. Untuk situasi sekarang, sistem pemerintahan Kerajaan Aceh dulu sama dengan otonomi daerah. Masa pemerintahannya singkat (1675-1678).

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah

Naqiatuddin Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang. Inggris yang hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan dagangnya ditolak Ratu dengan mengatakan, Inggris boleh berdagang, tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Tamu lainnya adalah kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E. Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Ratu meninggal 3 Oktober 1688, lalu ia digantikan oleh Kamalat Zainatuddin Syah.

Ratu Kamalat Zainatuddin Syah

Silsilah ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya.Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga. Pada masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua pendirian. Orang kaya bersatu dengan golongan agama menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap menginginkan wanita menjadi raja, adalah Panglima Sagi. Ia turun tahta pada bulan Oktober 1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapatkan kunjungan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang Inggris, East IndianCompany.

Cut Nyak Dien

Nama Cuk Nyak Dien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan: hidup atau mati di hutan belantara dari pada menyerah kepada Belanda. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia berminggu-minggu tidak menjumpai sesuap nasipun. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ia lahir tahun 1848. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang. Ibunya juga keturunan bangsawan. Cut Nyak Dien aktif di garis depan. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan suami dan anaknya. Persembunyian Cut Nyak Dien ditemukan oleh Belanda. Dalam keadaan buta dan lemah, ia ditangkap.Dengan tandu, Cut Nyak Dien dibawa oleh pasukan Belanda. Tanggal 11Desember 1906, Pemerintah Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien dan kemanakannya ke Sumedang, Jawa Barat. Pada 9 November 1908 ia meninggal.

Cut Meutia

Memegang pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, rambut terurai, tanpa ada keraguan sedikit pun, Cut Meutia menyongsong pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mosselman. Satu peluru di kepala dan dua di tubuhnya merubuhkan wanita yang digambarkan berparas cantik, kulit kuning berambut panjang. Ia tewas tangal 25 Oktober 1910 di hulu Sungai Peutoese telah pengejaran yang melelahkan oleh pasukan elit Belanda. Cut Muetia lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut Jah. Pesonanya sesuai dengan namanya Muetia yang diartikan mutiara. Ia menikah dengan Teuku Syamsarif seorang uleebalang tahun1890 dalam sebuah pernikahan yang agung sebagai anak uleebalang. Bercerai dari suaminya, gelora jiwanya terlepas bebas sudah. Ia punikut bergerilya bersama ayah dan saudara-saudaranya. Kemudian iadinikahkan dengan Teuku Cut Muhammad (Chik Tunong) dan barulah ia benar-benar ikut angkat senjata.

Pocut Baren

Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita, sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun 1910. Ia memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut Nyak Dien ketika masih aktif dalam perjuangan. Suatu penyerangan besar-besaran dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluh lantahkankan benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan ia dibawa ke Meulaboh. Sebagai penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu untuknya yang didatangkan khusus dariBelanda. Ia wafat tahun 1933.

Pocut Meurah Intan

Pocut Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Ia menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh,yang gigih menantang kehadiran Belanda. Belanda mencatat, bahwa PocutMeurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling anti Belanda. Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905, sampai tahun 1904 satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti Belanda adalah Pocut Meurah Intan. 

Seperti dikutip dari kabarinews.com, intensitas patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun sebelum tertangkap, ia masih melakukan perlawanan yang mengagumkan pihak lawan. Ia mencabut rencongya menyerbu brigade tempur Belanda. Terbaring di tanah digenangi darah dan lumpur, Veltman mengira ia tewas lalu meninggalkannya. Kata Valtman, biar dia meninggal ditangan bangsanya sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan. Valtman, pemimpin pasukan Belanda yang berpengalaman dan baik hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani). Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6 Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937 Pocut Meurah Intan meninggal.(kbn/bhc/sya)
Generasi muda merupakan cikal bakal penerus bangsa. Masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Pola pikir dan tingkah laku generasi muda sekarang mencerminkan nasib bangsa di masa yang akan datang. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang serba canggih, termasuk perubahan pada sikap dan gaya pergaulan kalangan muda di Aceh, mereka semakin tidak memahami tentang bahasa nenek moyang mereka; Bahasa Aceh.

Bahkan, kini banyak masyarakat Aceh yang malu mengajari anaknya berbicara bahasa Aceh, pun malu berbahasa Indonesia dengan dialek Aceh. Hal ini sangat kontradiktif dengan apa yang terjadi pada masyarakat di daerah lain. Lihat saja bagaimana orang Jawa, Padang, dan Batak, berbicara. Mereka tetap bangga pada bahasa dan kultur mereka masing-masing.

Sementara masyarakat Aceh, khususnya kalangan muda seperti kehilangan jati dirinya sebagai orang Aceh. Kondisi ini sudah terjadi dalam waktu yang sangat lama. Sehingga besar kemungkinan akan terus berlangsung di masa masa yang akan datang hingga kian memudarkan identitas mereka sebagai masyarakat Aceh.

Bahasa Aceh sebenarnya merupakan bahasa yang diadopsi dari beberapa bahasa negara lain. Selain Bahasa Aceh, beberapa suku di Aceh juga mempunyai bahasa ibu yang berbeda seperti bahasa Jamee yang mirip dengan Bahasa Minang, dan juga Bahasa Gayo. Tetapi sebagian besar masyarakat Aceh tetap memakai Bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari.

Permasalahan mulai terlupakannya bahasa daerah kita, muncul dari beberapa faktor, seperti media massa, internet, atau berbagai jejaring sosial yang sudah begitu mudah di akses oleh kaum muda Aceh. Pergaulan mereka saat ini juga didominasi oleh Bahasa Indonesia dan bahkan beberapa di antaranya sudah mulai menggunakan bahasa asing dalam pergaulan sehari-hari.

Hal tersebut mungkin lebih mengarah kepada prestise dalam pergaulan. Para remaja yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia pasaran atau bahasa gaul biasanya lebih merasa bangga, apalagi jika mereka sudah bisa bercakap dalam bahasa asing. Tentu pujian dari teman dan kebanggaan akan semakin meninggikan prestise tersebut, dan membuat mereka lupa dengan bahasa daerah mereka.

Memang Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pemersatu dan bahasa asing juga sangat diperlukan dalam zaman globalisasi sekarang ini. Apalagi jika tujuan berbahasa asing adalah untuk mengejar cita-cita hingga di luar negeri. Namun kembali lagi ke permasalahan kemajuan Aceh ke depan, Bahasa Aceh  sejatinya menjadi salah satu dari identitas rakyat Aceh.

Faktor lain yang besar pengaruhnya adalah faktor keluarga. Begitu banyak kita dapati para orang tua di Aceh yang lebih memilih untuk berbicara dengan anaknya sejak kecil menggunakan Bahasa Indonesia, dengan alasan agar si anak ketika dewasa kelak bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Padahal faktanya tanpa dipelajaripun Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sering digunakan dalam pembelajaran di sekolah dan di buku-buku bacaan. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang rumit untuk dipelajari. Namun, Bahasa Aceh lebih rumit dipelajari karena keanekaragaman dialeknya di berbagai daerah yang berbeda-beda.

Semakin memudarnya Bahasa Aceh di lingkungan orang Aceh sendiri tidak terlepas dari campur tangan globalisasi yang semakin meluas. Kita sebagai aktor yang mengikuti perkembangan arus tersebut juga tidak bisa menyalahkan globalisasi, karena sudah menjadi kodrat bagi dunia akan mengalami kemajuan yang semakin lama akan semakin pesat sesuai dengan tuanya umur dunia, dan sumber daya manusia akan terus disiapkan untuk dapat bersaing dengan keinginan zaman.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah semakin banyaknya orang Aceh tapi tak bisa berbahasa Aceh. Untuk saat sekarang ini, pemakaian Bahasa Aceh yang masih lengkap dan orisinil hanya bisa kita dapatkan di daerah-daerah pedesaan. Di ibukota provinsi pun, penggunaan Bahasa Aceh semakin jarang untuk kita dengar, bahkan di lingkungan anak muda Aceh timbul suatu ejekan “kolot” jika masih ada anak muda yang memakai bahasa “gaul” mereka dengan Bahasa Aceh.

Jika melihat semakin banyaknya anak muda di Aceh yang berbahasa memakai bahasa “anak gedongan”maka apresiasi terhadap bahasa Aceh semakin kurang terasa.

Namun , masih ada solusi yang bisa diterapkan untuk ancaman pudarnya Bahasa Aceh, yaitu menimbulkan kesadaran pribadi kita masing-masing. Kesadaran yang kuat dan dilandasi rasa bangga oleh kaula muda untuk tetap menggunakan Bahasa Aceh dalam pergaulan atau interaksi sosial lainnya. Bagi para orang tua juga perlu sebuah kesadaran terhadap pemikiran yang keliru tentang sebuah anggapan bahwa jika mengajarkan anak dengan Bahasa Aceh adalah hal yang tidak penting, karena bahasa Aceh sudah jarang dipakai, kuno, atau alasan globalisasi lainnya. 

Siti Nur Maulidina | mahasiwi Unimal.

Problema bahasa Aceh cukup banyak, sebanyak peta politik Aceh yang selalu meguyak; bergelombang. Namun ada satu butir terpenting dari ‘penyakit’ bahasa Aceh yang perlu segera didatangi ‘dokter spesialis’, yaitu soal ejaan. Maksud ‘dokter spesialis’ adalah campur tangan Pemerintah Aceh yang cergas, tangkas dan tuntas.

Sejak bahasa Aceh mulai ditulis dengan huruf Latin, masalah ejaan mulai menjadi persoalan. Dulu, pemerintah Hindia Belanda di Aceh mengikuti ejaan bahasa Aceh yang diajukan oleh sang pakar Aceh mereka, yaitu Snouck Hurgronje. Lalu, akibat sukarnya mendapatkan mesin tik yang memenuhi syarat, lama kelamaan warisan Belanda ini pun mulai ditinggalkan oleh sebagian pengarang. 


Para penulis bahasa Aceh --turutama pengarang hikayat-- menulis ejaan bahasa Aceh sesuai seleranya masing-masing. Sejumlah pengarang lama seperti Tgk Abdullah Arief, Syeh Rih Krueng Raya, Syeh Mud Jeureula sampai Medya Hus, dalam menulis bahasa Aceh masih memakai cara Snouck Hurgronje. 

Di antara penulis lama itu, hanya Medya Hus yang masih aktif menulis sekarang, sedangkan yang lain sudah berpulang ke Rahmatullah. Mungkin lantaran tinggal sendirian, sejauh yang saya amati; Medya Hus pun tidak mutlak lagi menulis bahasa Aceh dengan ejaan lama itu.

Kalangan pengarang Aceh yang lain, kini mereka menggunakan ejaan bahasa Aceh ‘ala praktis’. Akibat acuannya belum ada, maka ejaan bahasa Aceh yang mereka praktekkan menjadi beragam. Pihak Pemerintah Aceh-lah yang mampu menyeragamkan berbagai versi ejaan bahasa Aceh itu.

Model praktis 
Di antara pengarang hikayat yang paling produktif mengarang hikayat dengan ejaan bahasa Aceh ‘model praktis’ ini adalah Drs Tgk Ameer Hamzah. Melalui sejumlah hikayat karyanya, Ameer Hamzah telah ikut mewarnai versi ejaan bahasa Aceh yang semakin banyak ragamnya. Ia telah amat berperan dalam memasyarakatkan penulisan bahasa Aceh dengan ‘ejaan praktis’-nya.

Selain itu, meski kurang dikenal masyarakat awam, kalangan penulis bahasa Aceh juga amat menghargai Dr A Gani Asyik MA sebagai pelopor penulisan bahasa Aceh secara praktis. Namun demikian, tidak semua pengarang Aceh mengikuti pedoman ejaan bahasa Aceh yang dipakai beliau.

Sebagai bukti, baiklah saya tampilkan sejumlah perkataan bahasa Aceh yang menggunakan ejaan versi Dr A Gani Asyik MA. Ejaan beliau saya kutip dalam buku “Al Qur’an Al Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh”, karya Tgk H Mahjiddin Jusuf terbitan Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) Aceh, Banda Aceh, 2007. Penulisan ejaan bahasa Aceh pada edisi kedua buku ini memakai standarisasi versi Dr A Gani Asyik MA (AGA). 

Selanjutnya, silakan banding ejaan itu dengan ejaan bahasa Aceh yang saya (TA Sakti - TAS) pakai pada saat ini. Sedangkan nomor atau angka yang tercantum di ujung contoh-contoh itu adalah angka halaman dari “Al Qur’an Al Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh” oleh Tgk H Mahjiddin Jusuf (HMJ) itu.

Tak ada yang peduli
Begitulah, masalah ejaan bahasa Aceh amat beragam dan centang-prenang hingga hari ini. Berkali-kali seminar, kongres, diskusi dan workshop telah dilaksanakan, yang kesimpulannya antara lain mendesak pemerintah Aceh agar menyeragamkan ejaan Bahasa Aceh. Namun, hasilnya selalu nihil dan sama sekali tak ada yang peduli. Akibatnya, kekacauan ejaan bahasa Aceh semakin merajalela.

Di kalangan komunitas pengarang ‘Cae Aceh’ AcehTV, yang kini sudah berusia sekitar 3 tahun, juga terjadi ketidak-seragaman dalam penulisan ejaan bahasa Aceh untuk cae-cae Aceh mereka. “Karab lhee ploh droe nyang tuleh cae, mungken rab lhee ploh macam cit ejaan bahasa Aceh. (Hampir 30 orang yang menulis syair, mungkin hampir 30 macam pula ejaan bahasa Aceh mereka),” kata Medya Hus.

Saya sendiri, yang hingga kini telah menyalin/alih aksara 30 judul “Hikayat Aceh” dari huruf Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin; juga menulis bahasa Aceh dengan ejaan versi saya.

Oleh karena itu, ke depan kita amat mengharapkan tampilnya tokoh-tokoh Pemerintahan Aceh yang peduli kepada nasib bahasa Aceh, yang kacau-balau ejaannya sekarang. Kalau terus saja terbiarkan, berarti semakin bertambah pula jumlah ragam penulisan ejaan Bahasa Aceh. Karena itu, siapa pun pemimpin Aceh ke depan, kita harapkan agar tetap menjaga dan peduli akan bahasa dan sastra Aceh ini, Semoga!

* T.A Sakti, Peminat Bahasa dan Sastra Aceh, tinggal di Banda Aceh. Email: ta.sakti@yahoo.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. acehLAMhaba - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger