Generasi muda merupakan cikal bakal penerus bangsa. Masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Pola pikir dan tingkah laku generasi muda sekarang mencerminkan nasib bangsa di masa yang akan datang. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang serba canggih, termasuk perubahan pada sikap dan gaya pergaulan kalangan muda di Aceh, mereka semakin tidak memahami tentang bahasa nenek moyang mereka; Bahasa Aceh.
Sementara masyarakat Aceh, khususnya kalangan muda seperti kehilangan jati dirinya sebagai orang Aceh. Kondisi ini sudah terjadi dalam waktu yang sangat lama. Sehingga besar kemungkinan akan terus berlangsung di masa masa yang akan datang hingga kian memudarkan identitas mereka sebagai masyarakat Aceh.
Bahasa Aceh sebenarnya merupakan bahasa yang diadopsi dari beberapa bahasa negara lain. Selain Bahasa Aceh, beberapa suku di Aceh juga mempunyai bahasa ibu yang berbeda seperti bahasa Jamee yang mirip dengan Bahasa Minang, dan juga Bahasa Gayo. Tetapi sebagian besar masyarakat Aceh tetap memakai Bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahan mulai terlupakannya bahasa daerah kita, muncul dari beberapa faktor, seperti media massa, internet, atau berbagai jejaring sosial yang sudah begitu mudah di akses oleh kaum muda Aceh. Pergaulan mereka saat ini juga didominasi oleh Bahasa Indonesia dan bahkan beberapa di antaranya sudah mulai menggunakan bahasa asing dalam pergaulan sehari-hari.
Hal tersebut mungkin lebih mengarah kepada prestise dalam pergaulan. Para remaja yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia pasaran atau bahasa gaul biasanya lebih merasa bangga, apalagi jika mereka sudah bisa bercakap dalam bahasa asing. Tentu pujian dari teman dan kebanggaan akan semakin meninggikan prestise tersebut, dan membuat mereka lupa dengan bahasa daerah mereka.
Memang Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pemersatu dan bahasa asing juga sangat diperlukan dalam zaman globalisasi sekarang ini. Apalagi jika tujuan berbahasa asing adalah untuk mengejar cita-cita hingga di luar negeri. Namun kembali lagi ke permasalahan kemajuan Aceh ke depan, Bahasa Aceh sejatinya menjadi salah satu dari identitas rakyat Aceh.
Faktor lain yang besar pengaruhnya adalah faktor keluarga. Begitu banyak kita dapati para orang tua di Aceh yang lebih memilih untuk berbicara dengan anaknya sejak kecil menggunakan Bahasa Indonesia, dengan alasan agar si anak ketika dewasa kelak bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Padahal faktanya tanpa dipelajaripun Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sering digunakan dalam pembelajaran di sekolah dan di buku-buku bacaan. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang rumit untuk dipelajari. Namun, Bahasa Aceh lebih rumit dipelajari karena keanekaragaman dialeknya di berbagai daerah yang berbeda-beda.
Semakin memudarnya Bahasa Aceh di lingkungan orang Aceh sendiri tidak terlepas dari campur tangan globalisasi yang semakin meluas. Kita sebagai aktor yang mengikuti perkembangan arus tersebut juga tidak bisa menyalahkan globalisasi, karena sudah menjadi kodrat bagi dunia akan mengalami kemajuan yang semakin lama akan semakin pesat sesuai dengan tuanya umur dunia, dan sumber daya manusia akan terus disiapkan untuk dapat bersaing dengan keinginan zaman.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah semakin banyaknya orang Aceh tapi tak bisa berbahasa Aceh. Untuk saat sekarang ini, pemakaian Bahasa Aceh yang masih lengkap dan orisinil hanya bisa kita dapatkan di daerah-daerah pedesaan. Di ibukota provinsi pun, penggunaan Bahasa Aceh semakin jarang untuk kita dengar, bahkan di lingkungan anak muda Aceh timbul suatu ejekan “kolot” jika masih ada anak muda yang memakai bahasa “gaul” mereka dengan Bahasa Aceh.
Jika melihat semakin banyaknya anak muda di Aceh yang berbahasa memakai bahasa “anak gedongan”maka apresiasi terhadap bahasa Aceh semakin kurang terasa.
Namun , masih ada solusi yang bisa diterapkan untuk ancaman pudarnya Bahasa Aceh, yaitu menimbulkan kesadaran pribadi kita masing-masing. Kesadaran yang kuat dan dilandasi rasa bangga oleh kaula muda untuk tetap menggunakan Bahasa Aceh dalam pergaulan atau interaksi sosial lainnya. Bagi para orang tua juga perlu sebuah kesadaran terhadap pemikiran yang keliru tentang sebuah anggapan bahwa jika mengajarkan anak dengan Bahasa Aceh adalah hal yang tidak penting, karena bahasa Aceh sudah jarang dipakai, kuno, atau alasan globalisasi lainnya.
Siti Nur Maulidina | mahasiwi Unimal.